
Banyak peneliti pemula bingung saat pertama kali terjun ke penelitian kualitatif. Bagaimana cara merancang penelitian? Apa perbedaannya dengan penelitian kuantitatif?
Tapi sebenarnya, penelitian kualitatif tidak serumit yang Anda kira.
Artikel ini akan menjelaskan dasar-dasar lengkap penelitian kualitatif, dari teori hingga praktiknya.
Mari kita mulai dengan memahami dasar-dasarnya!
Dasar-Dasar Kualitatif
Pada bagian ini, kita akan memahami dasar-dasar penting penelitian kualitatif.
Pertama, kita harus tahu dulu tentang pengertiannya. Kemudian mengetahui perbedaannya dengan kuantitatif.
Sampai pada penjelasan, kenapa Anda memilih kualitatif. Mari kita mulai.
Apa Itu Penelitian Kualitatif?
Mula-mula, mari kita ketahui tentang pengertian dari penelitian kualitatif ini. Banyak ahli sebelumnya, yang telah memaparkan pemikiran mereka tentang jenis penelitian yang satu ini.
Penelitian kualitatif mencatat data deskriptif baik dalam bentuk lisan maupun tertulis dari individu serta perilaku yang diamati.
Salah satu ahli yang kerap memberikan argumen tentang penelitian kualitatif, adalah Lexy J. Moleong. Karya-karyanya lebih menekankan pada metodologi kualitatif.
Seperti apa yang diungkapkannya, penelitian kualitatif hanya menjelaskan tentang deskriptif terhadap suatu objek tertentu yang dikaji, baik lisan maupun tulisan.
Itu artinya, peneliti harus memiliki kemampuan lebih serius, seperti memiliki bekal teori yang cukup, kemampuan wawancara, dan mengamati. Terlebih lagi, peneliti adalah instrumen kunci dalam penelitiannya. Keterlibatan peneliti menjadi bagian yang penting disini.
Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Penelitian kualitatif dan kuantitatif punya tujuan yang berbeda.
Kualitatif menggali makna dan pengalaman. Kuantitatif mengukur data dan mencari pola.
Metodenya pun berbeda. Kualitatif menggunakan wawancara, observasi, dan studi kasus. Kuantitatif mengandalkan survei, eksperimen, dan analisis statistik.
Dari sisi data, kualitatif berbasis narasi dan deskripsi. Kuantitatif berbentuk angka dan statistik.
Analisisnya? Kualitatif bersifat interpretatif. Kuantitatif berbasis perhitungan matematis.
Hasil kualitatif lebih mendalam, tapi sulit digeneralisasi. Kuantitatif lebih objektif dan bisa mewakili populasi lebih luas.
Jadi, mana yang lebih baik?
Gunakan kualitatif jika ingin memahami alasan di balik suatu fenomena. Gunakan kuantitatif jika ingin melihat hubungan antar variabel dengan angka.
Sederhananya: Kualitatif menjawab "kenapa", kuantitatif menjawab "berapa".
Landasan & Paradigma Penelitian Kualitatif
Paradigma Penelitian Kualitatif
Paradigma adalah cara pandang peneliti dalam memahami realitas.
Dalam penelitian kualitatif, paradigma menentukan bagaimana data dikumpulkan, dianalisis, dan diinterpretasikan.
Ada tiga paradigma utama dalam penelitian kualitatif.
#1. Paradigma Positivisme
Meskipun lebih sering digunakan dalam penelitian kuantitatif, beberapa penelitian kualitatif tetap mengadopsinya.
Positivisme percaya bahwa realitas itu objektif dan bisa diukur. Data dikumpulkan dengan metode yang sistematis untuk menemukan pola yang dapat direplikasi.
Namun, banyak peneliti kualitatif menganggap pendekatan ini terlalu kaku.
#2. Paradigma Interpretivisme
Interpretivisme melihat realitas sebagai sesuatu yang subjektif.
Setiap individu memahami dunia dengan cara yang berbeda. Penelitian dalam paradigma ini berfokus pada makna dan perspektif partisipan.
Metode yang sering digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi partisipatif.
#3. Paradigma Konstruktivisme
Konstruktivisme lebih dari sekadar memahami makna-ia melihat realitas sebagai sesuatu yang dibangun secara sosial.
Penelitian dalam paradigma ini menekankan bahwa realitas tidak hanya ditemukan, tetapi juga diciptakan melalui interaksi sosial.
Peneliti sering kali menjadi bagian dari penelitian, bukan hanya pengamat.
Paradigma Mana yang Harus Dipilih?
Tidak ada jawaban pasti.
Jika ingin memahami pola dan struktur sosial, interpretivisme bisa jadi pilihan. Jika ingin meneliti bagaimana realitas dibentuk oleh interaksi manusia, konstruktivisme lebih cocok.
Yang terpenting, sesuaikan paradigma dengan tujuan penelitian.
Epistemologi dan Ontologi dalam Penelitian Kualitatif
Teori-Teori yang Mendukung Penelitian Kualitatif
Jenis Penelitian Kualitatif
Jadi, penelitian kualitatif dimaknai sebagai penelitian deskriptif atau fenomenologis. Tetapi, itu hanyalah pemaknaan yang luas.
Ada beberapa penamaan metode penelitian lain yang mungkin sering kita dengar, namun nyatanya ia termasuk sebagai jenis dari penelitian kualitatif ini. Mari kita lihat.
Penelitian Studi Kasus (Case Studies)
Banyak orang yang mengetahui tentang jenis penelitian ini, yaitu Studi Kasus. Tetapi, tidak banyak diantara mereka yang mengetahui bahwa metode ini sebenarnya termasuk bagian dari Penelitian Kualitatif.
Fenomenologi (Phenomenology)
Fenomenologi adalah istilah yang mungkin sudah akrab dalam dunia penelitian kualitatif. Banyak artikel yang diterbitkan menjelaskan makna kualitaitf itu adalah fenomenologis.
Dalam penjelasan yang lebih mendalam, metodologi Fenomenologi ini memiliki metode khusus dalam praktiknya. Sehingga, tidak bisa dipukul rata bahwa makna kualitatif itu adalah penelitian fenomenologi.
Metode fenomenologi cenderung lebih mengarah pada masalah-masalah tenteng suatu fenomena. Itu artinya, mendasar pada permasalahan yang terjadi.
Contohnya, persoalan merokok pada remaja. Ini adalah fenomena. Jadi, bisa tergambar judul fenomenologi berupa: "Intensitas Merokok Pada Remaja".
Grounded Theory
Penelitian kualitatif Grounded Theory adalah pendekatan dalam ilmu sosial yang fokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial dari perspektif partisipan yang terlibat.
Jadi, bayangkan jika Anda tengah duduk bersama sekelompok orang, dan mereka menceritakan pengalaman hidup mereka dengan segala detailnya. Nah, pendekatan Grounded Theory ini seperti Anda menyerap semua cerita itu dengan teliti, tanpa membawa asumsi atau teori sebelumnya.
Ini artinya, Anda membiarkan temuan-temuan atau "teori" muncul dari data yang Anda kumpulkan. Daripada mulai dengan hipotesis yang sudah ada sebelumnya, pendekatan ini lebih seperti membiarkan pola-pola dan tema-tema muncul secara alami dari data itu sendiri.
Jadi, bukan Anda yang mencoba memaksakan teori ke data, tapi sebaliknya, data yang membentuk teori.
Jadi begini, di dunia pendidikan, Grounded Theory tuh kayak peta harta karun, tapi bukan harta fisik, melainkan wawasan dan pemahaman yang berharga tentang bagaimana belajar dan mengajar itu sebenernya.
Jadi bayangin aja, guru atau peneliti itu kayak petualang yang jalan-jalan ke dalam dunia belajar-mengajar tanpa membawa peta. Mereka nggak datang dengan gagasan-gagasan sebelumnya tentang apa yang harus mereka temukan.
Alih-alih, mereka buka mata dan telinga mereka untuk dengar dan lihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas atau dalam proses belajar.
Mereka denger cerita-cerita dari murid, mereka amati interaksi di antara siswa dan guru, mereka perhatiin lingkungan belajar secara keseluruhan.
Studi Sejarah (Historical Research)
Jenis penelitian kualitatif selanjutnya adalah Studi Sejarah (Historical Research). Dari istilahnya saja, tentu dapat dipahami bahwa metode ini digunakan untuk mengungkapkan sejarah terjadap objek tertentu.
Lagi-lagi, jenis ini sangat sering diperdengarkan dalam beragam teori-teori yang ada. Tidak sedikit orang yang memahami bahwa Historical Research itu adalah metode tersendiri. Padahal, ini adalah bagian dari kualitatif.
Oh iya. Bahkan saat Saya bertanya kepada para mahasiswa di kelas Saya tentang jenis penelitian, Historical Research disebut sebagai jenis tersendiri. Itu artinya, mereka sebenarnya mengenal istilah ini, tetapi yang keliru adalah itu keluar dari kualitatif (padahal bagian darinya).
Metode sejarah adalah suatu sistem prosedur yang tepat untuk mencapai kebenaran melalui serangkaian langkah heuristik, analisis kritis, interpretasi, dan historiografi.
Langkah-langkah ini diimplementasikan setelah menetapkan topik penelitian serta merumuskan masalah dan pertanyaan yang relevan dalam konteks sejarah. Pencapaian tujuan metode sejarah dilakukan melalui penerapan prinsip-prinsip dan aturan yang tersusun secara terstruktur untuk mendukung pengumpulan sumber-sumber sejarah.
Langkah-Langkah Penelitian Kualitatif
Oke, mari bahas langkah-langkah dalam penelitian kualitatif secara sederhana dan santai.
Mengumpulkan Data
Pertama-tama, kita mulai dengan mengumpulkan data. Nah, ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari wawancara dengan orang-orang yang terlibat, observasi langsung, sampai dengan mengumpulkan dokumen atau rekaman yang relevan.
Analisis/ Triangulasi
Setelah itu, kita masuk ke tahap analisis. Ini waktu di mana kita bener-bener duduk dan merenungkan data yang udah kita kumpulin tadi. Kita cari pola-pola, temukan tema-tema yang muncul, dan coba mengerti makna di balik data itu.
Jadi, setelah kita mengumpulkan data, salah satu langkah penting adalah melakukan triangulasi. Triangulasi itu kayak membandingkan atau mengonfirmasi temuan kita dari berbagai sumber atau sudut pandang.
Misalnya, kita bisa bandingin data dari wawancara dengan data dari observasi, atau dari berbagai orang yang terlibat dalam penelitian kita.
Tujuan triangulasi ini adalah untuk memastikan keabsahan dan keandalan temuan kita. Dengan membandingkan data dari berbagai sumber atau metode, kita bisa lebih yakin bahwa apa yang kita temukan itu beneran mencerminkan realitas yang ada.
Membangun Teori
Setelah kita punya gambaran yang lebih jelas tentang data kita, langkah berikutnya adalah membangun teori atau interpretasi dari temuan kita. Ini bisa jadi bagian yang paling menarik, karena di sinilah kita mulai menghubungkan titik-titik antara data yang kita punya dengan teori-teori yang ada.
Membuat Kesimpulan
Nah, terakhir tapi nggak kalah penting, kita sampaikan hasil penelitian kita. Ini bisa melalui tulisan, presentasi, atau cara lain yang sesuai dengan konteks penelitian kita. Tujuannya adalah agar orang lain juga bisa mengerti dan mengapresiasi temuan kita.
Jadi, itulah gambaran umum tentang langkah-langkah dalam penelitian kualitatif. Mulai dari mengumpulkan data, analisis, membangun teori, sampai dengan menyampaikan hasilnya. Dan ingat, proses ini nggak selalu linear, bisa aja kita harus bolak-balik antara langkah-langkah ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam. Yang penting, tetap eksploratif dan terbuka terhadap temuan baru!
Referensi
- Moleong, L. J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Komentar